PADAHAL SAMA

Ketika mereka memandang dengan sebelah mata
Saat dunia sedang tak lagi bersahabat
Ketika tingkat dilihat dari seberapa banyak yg kau punya
Maka awan tak akan nampak terang

Satu langkah tak terlihat
Dua langkah semakin menjauh
Hingga akhirnya senyum tak seperti isi hati

Merasa beda padahal sama
Saat derajat dihitung berdasarkan rumus harta
Senyum picik mengarah kebawah
Nampak bangga pada dunianya
Merasa beda padahal sama ...

LELAKI JENAKA

Lelaki suram dari dunia jenaka
Mentertawakan diri atas hidup sendiri

Mimpi hanya mimpi, harapan hanya harapan
Lelaki jenaka bermimpi atas harapan yg hanya sebatas mimpi... sebatas harapan

Lakukan apa? Tanya lelaki jenaka
Ini, itu, semua yg ia mau.

Namun semua terkalahkan oleh mereka yg lebih segala, lebih ini, lebih itu, lebih dari semua yg mereka mau

Lelaki jenaka berhenti meminta, karena sadar atas diri

Namun waktu terus berjalan, yang tak pernah berhenti mengganggu Si lelaki jenaka
Menyadarkan bahwa esok tak lagi sama

Bukan tanpa sadar ia terganggu oleh waktu
Namun seolah pintu bahagia tak memiliki kunci, yg sulit terbuka barang secuil celah harapan

Ada yg salah! Ucap lelaki jenaka

Tak ada yg bertanya apa yg salah
Tak ada yg merasa apa yg salah
Karena lelaki jenaka berjalan sendiri

Berjalan dengan sisa tenaga
Setelah lama berjuang untuk yg tak disuka

Siapa yg salah?
Ucap lelaki jenaka dalam hati... Ya, dalam hati

Tak ada nyali untuk menyalahkan yg sudah terjadi
Karena sekali salah akan tetap salah
Hingga wajah lesu menghapus raut jenaka

Apa lagi? Lalu apa setelah ini?
Tanya lelaki jenaka yg masih tak memiliki jawaban

Lambaian tangan mengarah ke atas, mengaku kalah atas hidup saat ini
Ketika pintu tak menemukan kunci, tertutup rapat bagai buah yg berisi biji

Lelaki jenaka terduduk dalam sepi
Melihat keramaian yg hanya sebatas basa basi
Tertawa sambil saling memuji, seolah biji tak memiliki arti

Lelaki jenaka tersenyum, lalu tak lama kembali melamun
Sedikit berfikir untuk bernyanyi, namun sadar suara tak menciptakan nada

Lelaki jenaka kembali berfikir, tak ada batas jika tak menemukan sudut.
Tetap berjalan perlahan atau diam sejenak untuk berjalan cepat?

Jawaban semakin sulit bagi lelaki jenaka

Yg memang hadir di dunia, hanya untuk berbagi tawa.





UNTUK AKU KATANYA

Pagi buta Ibu pergi, ketika botol susu menemani tidurku sebagai pengganti asi
Ibu pergi Ayah pergi, mereka pergi, meninggalkan yg dikatakan cintanya demi membahagiakan yg dikatakan cintanya.
Untuk apa mereka pergi?
Untuk aku katanya
Untuk susuku
Untuk kelak aku dewasa nanti
Aku ingin cepat dewasa, agar bisa pergi bersama Ibu dan Ayah

Aku tidur bersama Ibu namun ketika terbangun Ibu berganti
Berganti oleh sosok berbeda, wajah yg berbeda, belaian yg berbeda, suapan yg berbeda, dan itu bukan Ibu

Tangisku tak terdengar oleh Ibu, Ibu tak ada disini
Tawaku tak terlihat oleh Ayah, Ayah tak ada disini
Kemana mereka, pergi sebentar katanya.
Untuk apa?
Untuk aku katanya

Ketika cahaya mulai berganti lampu terang, ibu pun pulang
Memberiku ciuman bersama aroma tubuh yg lelah
Ibu kemana saja, tadi aku menangis karena tak bisa menahan pipis, tadi aku menangis karena susuku telah habis

Wajah lelah ibu kini berganti senyuman
Seolah aku pemberi kebahagian
Tawaku disambut pelukan, pelukan hangat dari ibu, dekapan sayang dari ibu
Ibu kemana saja?
Pergi sebentar katanya
Untuk apa?
Untuk aku katanya

Dimana ayah?
Belaian lembut ibu menjawab pertanyaanku
Sebotol susu dibuat ibu untuk menidurkanku
Aku ingin melihat ayah?
Aku ingin bercerita tadi aku tertawa
Aku tertawa melihat gambar lucu di tv
Aku tertawa ketika banyak warna bagus di tv

Tapi aku tak bisa
Aku tak bisa berbagi tawa bersama ayah
Tak ada ayah disini
Susu itu membuatku terkantuk
Belaian ibu semakin hangat, setidaknya ibu ada disebelahku
Lalu aku tertidur disebelah ibu, ketika ayah tak ada disini

Ayah kemana?
Pergi sebentar katanya
Untuk apa?
Untuk aku katanya ...

















TENTANG "i"

Jika tak ada hujan, maka tak akan ada pelangi
Jika tak ada awan, maka tak usah lah bermimpi terlalu tinggi

Ini bukan puisi, apalagi sajak motivasi
Ini hanya ungkapan hati, dari serdadu kecil yang hanya bisa bermimpi

Demi sebuah harga diri, serdadu kecil mencoba untuk tak tertandingi
Berjalan dengan pasti, melewati panasnya matahari

Ada waktu disaat ia letih berdiri, bertahan sekali dan jatuh dua kali
Berdiri lagi dan terjatuh dua kali lagi

Senyum menyebalkan menghiasi tengah pipi
Menghindari caci, dari mulut setan yang tak terkunci

MENUNGGU PELANGI

Menunggu pelangi di bawah sisa hujan
Menatap ke depan namun tak mampu berjalan
Basah air menghapus jejak langkah
Memejamkan mata menikmati waktu terbuang percuma

Langkah terhenti karena pelangi belum berwarna
Mata kembali terpejam menenangkan raga
Menutup jendela lalu membalikkan langkah
Menundukkan kepala karena pelangi masih belum berwarna

Anak muda terlelap dipagi hari
Hasil putus asa atas ketidakmampuan berkarya
Generasi gelap awal hilangnya semangat
Kehilangan jejak hingga melangkah sesat

Di sana masih hujan
Di sana masih gerimis
Pelangi tak kunjung datang

Menunggu pelangi dengan memejamkan mata
Tak melakukan apa-apa sampai hujan reda
Sebab mendung membutakan langkah
Lalu kembali sambil menutup jendela







UNGKAPAN PECUNDANG

Ketika putus asa, dengan kata putus asa
Ketika bosan, dengan kata bosan
Membuat jiwa tak tau arah berjalan

Lelah langkah berada dipikiran
Sebab usaha tak berjalan sesuai keinginan
Jutaan jejak tertanda di setiap langkah
Yang kemudian hilang terhapus rasa putus asa

Bosan menjadi kalah
Padahal pertarungan tak memiliki lawan
Melangkah ke depan tanpa memperbaiki diri
Menjadi satu penyebab dari penyakit hati

Untuk apa memandangi kaca
Jika yang dilihat hanya tampilan diri
Yang nampak tak ada beda dengan hari kemarin

Berusaha menjadi yang terbaik
Berjuang untuk nama baik
Melangkah demi kehidupan yang lebih baik
Tapi lupa untuk belajar menjadi baik

Putus asa, dengan kata putus asa
Bosan, dengan kata bosan
Ungkapan seorang pecundang, yg lelah untuk berjuang

GADIS PENJUAL ROKOK

Hembusan angin menjamak tubuh indah gadis penjual rokok
Berlenggak lenggok menjajakan sebungkus manis asap tembakau
Bagai elang melihat mangsa
Tatapan mata lelaki menggerayangi sekujur tubuh indah menggoda

Kadang ia risih, namun tak ada pilihan ketika sudah berada dihadapan
Demi target perusahaan yg diemban, mereka pun berjalan diantara mata elang
Senyum manja mencoba menggoda, harum parfum menghantarkan nafsu dunia
Hingga sebungkus rokok berganti dengan lembar harapan, disertai senyuman manis tanda kebahagiaan

Engkau gadis penjual rokok, jaga selalu indahmu, jaga selalu semangatmu
Jangan ragu berkata tidak pada goda hina para mata elang
Yang menganggapmu sebagai objek dari sebuah keindahan

Gadis penjual rokok sungguh mempesona
Hadirnya bagai air jernih ditengah keruhnya keadaan
Bagai pemanis disaat pahit
Ibarat putih diantara hitam
Tak ada yg tak melihat gadis penjual rokok berjalan
Bak hijau daun dipadang pasir yg gersang

Panas matahari tak dirasa, ketika betis mulus berjalan sekali lagi
Berganti pembeli dengan cara sama
Hingga akhirnya mata elang pun dianggap biasa
Gadis penjual rokok tak kenal lelah, rela berlama-lama dalam keadaan yg sama
Demi sebuah kata dari yg namanya usaha
Diberdayakan oleh Blogger.

Kumpulan Tulisan