Lelaki suram dari dunia jenaka
Mentertawakan diri atas hidup sendiri
Mimpi hanya mimpi, harapan hanya harapan
Lelaki jenaka bermimpi atas harapan yg hanya sebatas mimpi... sebatas harapan
Lakukan apa? Tanya lelaki jenaka
Ini, itu, semua yg ia mau.
Namun semua terkalahkan oleh mereka yg lebih segala, lebih ini, lebih itu, lebih dari semua yg mereka mau
Lelaki jenaka berhenti meminta, karena sadar atas diri
Namun waktu terus berjalan, yang tak pernah berhenti mengganggu Si lelaki jenaka
Menyadarkan bahwa esok tak lagi sama
Bukan tanpa sadar ia terganggu oleh waktu
Namun seolah pintu bahagia tak memiliki kunci, yg sulit terbuka barang secuil celah harapan
Ada yg salah! Ucap lelaki jenaka
Tak ada yg bertanya apa yg salah
Tak ada yg merasa apa yg salah
Karena lelaki jenaka berjalan sendiri
Berjalan dengan sisa tenaga
Setelah lama berjuang untuk yg tak disuka
Siapa yg salah?
Ucap lelaki jenaka dalam hati... Ya, dalam hati
Tak ada nyali untuk menyalahkan yg sudah terjadi
Karena sekali salah akan tetap salah
Hingga wajah lesu menghapus raut jenaka
Apa lagi? Lalu apa setelah ini?
Tanya lelaki jenaka yg masih tak memiliki jawaban
Lambaian tangan mengarah ke atas, mengaku kalah atas hidup saat ini
Ketika pintu tak menemukan kunci, tertutup rapat bagai buah yg berisi biji
Lelaki jenaka terduduk dalam sepi
Melihat keramaian yg hanya sebatas basa basi
Tertawa sambil saling memuji, seolah biji tak memiliki arti
Lelaki jenaka tersenyum, lalu tak lama kembali melamun
Sedikit berfikir untuk bernyanyi, namun sadar suara tak menciptakan nada
Lelaki jenaka kembali berfikir, tak ada batas jika tak menemukan sudut.
Tetap berjalan perlahan atau diam sejenak untuk berjalan cepat?
Jawaban semakin sulit bagi lelaki jenaka
Yg memang hadir di dunia, hanya untuk berbagi tawa.


0 komentar:
Posting Komentar